Tim peneliti Universitas Gadjah Mada mengungkapkan kenaikan suhu udara akibat krisis iklim berdampak langsung pada merosotnya pendapatan pelaku UMKM di Indonesia. Peningkatan suhu satu derajat Celsius dari kondisi normal dapat memicu penurunan pendapatan usaha hingga 14 persen karena menurunnya produktivitas serta kemampuan kognitif pekerja.

Temuan tersebut tertuang dalam penelitian bertajuk Productivity impact of temperature change: evidence from Indonesia household-based enterprises survey. Studi ini merupakan kolaborasi antara tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM dengan Department of Economics College of William and Mary.

Para peneliti menganalisis data Indonesia Family Life Survey (IFLS) yang dikombinasikan dengan data temperatur serta curah hujan di berbagai wilayah. Fokus penelitian tertuju pada usaha rumah tangga karena mencakup 99 persen unit usaha di tanah air yang memiliki peran krusial untuk perekonomian Indonesia saat ini.

Korelasi Kenaikan Temperatur dan Penurunan Omzet

Hasil studi menunjukkan adanya hubungan kuat antara peningkatan panas bumi dengan stabilitas finansial pelaku usaha kecil. Kelompok usaha ini dinilai paling rentan karena sering kali tidak memiliki sumber daya atau perlindungan yang cukup untuk menghadapi suhu ekstrem yang terus meningkat.

Peneliti Esa Azali Asyahid menjelaskan bahwa kenaikan suhu tahunan sebesar 1 derajat Celsius mengakibatkan pendapatan usaha merosot sekitar 13 hingga 14 persen. Sementara itu, bagi individu yang bekerja di sektor tersebut, potensi pendapatan dapat terpangkas hingga 20 persen.

"Kami menemukan bahwa kenaikan temperatur tahunan sebesar 1 derajat Celsius dari kondisi normal menyebabkan penurunan pendapatan usaha sekitar 13 hingga 14 persen. Sementara itu, pendapatan tiap pekerja dapat turun hingga sekitar 20 persen," kata Esa Azali Asyahid.

Produktivitas kerja ditemukan mencapai titik paling optimal pada temperatur rata-rata tahunan di kisaran 25 hingga 26 derajat Celsius. Ketika suhu melampaui titik tersebut, kinerja usaha mulai mengalami penurunan signifikan. Sebagai gambaran, suhu maksimum harian di Jabodetabek saat ini bisa menyentuh 36 derajat Celsius.

Sektor Paling Rentan Terhadap Krisis Iklim

Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang memaksa pekerja melambat dan membutuhkan waktu istirahat lebih sering. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif dalam mengambil keputusan, memperlambat waktu reaksi, serta mengurangi akurasi kerja di lapangan.

Sektor padat karya seperti konstruksi, manufaktur, dan usaha makanan menjadi kelompok yang mengalami tekanan produktivitas paling besar. Kondisi ini dikhawatirkan akan memperlebar ketimpangan ekonomi karena keterbatasan kapasitas adaptasi pada sektor informal dan usaha skala kecil.

Meskipun BMKG telah merilis daftar wilayah memasuki musim hujan Oktober 2026, tantangan suhu panas tetap menjadi isu pembangunan ekonomi jangka panjang. Peneliti menyarankan pemerintah menyiapkan kebijakan adaptif seperti akses teknologi pendingin, jam kerja fleksibel, dan perlindungan sosial yang responsif.

Simpulan

Kenaikan suhu udara akibat perubahan iklim terbukti memberikan tekanan nyata terhadap pendapatan sektor UMKM di Indonesia. Penurunan produktivitas hingga 14 persen menjadi alarm bahwa krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Penyediaan infrastruktur kerja yang lebih dingin dan insentif finansial diperlukan untuk membantu pelaku usaha kecil beradaptasi. Langkah mitigasi yang tepat sangat menentukan keberlanjutan unit usaha rumah tangga di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.