Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan kasus anemia pada anak dan remaja masih tinggi, termasuk di wilayah Jakarta dan Bekasi. Masalah kesehatan ini utamanya dipicu oleh defisiensi zat besi yang rentan terjadi pada kelompok usia yang tengah mengalami masa pertumbuhan pesat.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, Murti Andriastuti, menjelaskan bahwa kebutuhan zat besi paling tinggi berada pada kelompok bayi dan remaja. Pada kedua fase usia ini, anak mengalami percepatan pertumbuhan yang signifikan sehingga memerlukan asupan nutrisi lebih banyak.
Menurut Murti, pemenuhan kebutuhan zat besi berkaitan erat dengan kondisi ekonomi suatu negara karena zat gizi tersebut banyak bersumber dari protein hewani. Kasus gizi pada anak memang membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Terkait isu kesehatan lainnya, Novo Nordisk dan UNICEF Kolaborasi Tangani Obesitas Anak di Indonesia sebagai bagian dari upaya perbaikan nutrisi generasi muda.
Pencegahan Sejak Dini Melalui Makanan Pendamping ASI
Upaya untuk menekan angka anemia dapat dimulai sejak dini ketika bayi memasuki masa makanan pendamping ASI (MPASI). Orang tua disarankan memberikan asupan kaya zat besi yang bersumber dari protein hewani berkualitas tinggi.
Beberapa contoh makanan yang mengandung zat besi tinggi antara lain telur, hati, dan daging merah. Konsumsi jenis pangan tersebut sejak awal pemberian MPASI sangat efektif dalam mencukupi kebutuhan zat besi harian bayi.
Data IDAI menunjukkan gejala anemia bahkan sudah mulai ditemukan sejak bayi menginjak usia 4 bulan dengan prevalensi 20 hingga 30 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan hingga mencapai sekitar 40 persen pada kelompok usia 9 sampai 12 bulan.
Di sisi lain, kondisi kekurangan zat besi tanpa disertai anemia tercatat berada di kisaran 30 persen. Khusus pada usia 9 bulan, angka kejadian anemia akibat kekurangan zat besi berada pada rentang 20 hingga 25 persen sebelum melonjak pada masa berikutnya.
Temuan Kasus di Jakarta dan Bekasi
Penelitian yang dilakukan IDAI di kawasan Jakarta dan Bekasi menunjukkan bahwa masalah kekurangan zat besi tetap berlanjut ketika anak memasuki usia sekolah hingga remaja. Berikut adalah rincian data prevalensi anemia berdasarkan kelompok usia:
- Kelompok usia 6 sampai 12 tahun: angka anemia mencapai 14 persen.
- Kelompok usia 6 sampai 18 tahun: prevalensi berada di angka 13,1 persen.
- Kelompok usia 10 sampai 21 tahun: tercatat sekitar 10 persen kasus anemia.
Kondisi defisiensi besi di wilayah tersebut juga cukup tinggi, yakni 14,8 persen pada anak usia 6 sampai 12 tahun. Persentase ini terus meningkat menjadi 18,8 persen pada kelompok umur 6 sampai 18 tahun, serta mencapai 20 persen pada rentang usia 10 sampai 21 tahun.
IDAI menegaskan bahwa kekurangan zat besi menyumbang sekitar 30 hingga 50 persen dari total kejadian anemia. Oleh sebab itu, mengatasi kekurangan zat besi menjadi prioritas utama guna menurunkan prevalensi penyakit ini secara efektif.
Dampak Penurunan Kadar Hemoglobin pada Anak
Anemia merupakan keadaan klinis ketika kadar hemoglobin seseorang berada di bawah batas normal untuk kelompok usianya. Hemoglobin di dalam sel darah merah bertugas penting mengedarkan oksigen dan nutrisi ke seluruh organ tubuh.
Apabila kadar hemoglobin ini merosot, anak akan menunjukkan tanda-tanda fisik tertentu. Gangguan kesehatan ini umumnya membuat anak merasa lelah, lemah, serta letih dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Informasi kesehatan ini disajikan sebagai sarana edukasi masyarakat dan bukan merupakan pengganti dari konsultasi medis profesional bersama dokter atau tenaga kesehatan.
Simpulan
Angka anemia dan defisiensi zat besi pada anak serta remaja di Jakarta dan Bekasi tergolong masih tinggi. Kondisi ini dipicu oleh kurangnya pemenuhan asupan protein hewani sejak fase tumbuh kembang anak.
Langkah utama yang perlu dilakukan adalah memastikan kebutuhan zat besi anak terpenuhi melalui pemberian protein hewani sejak masa MPASI. Upaya pencegahan ini sangat krusial untuk meminimalkan dampak buruk anemia terhadap perkembangan fisik anak.
Artikel kesehatan ini bertujuan memberikan pemahaman umum dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis resmi dari dokter atau tenaga kesehatan.