Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze mengungkapkan alasan di balik kebiasaan sering merasa lapar setelah mengonsumsi makanan olahan tepung terigu seperti mi dan roti. Hal ini berkaitan erat dengan respons tubuh terhadap lonjakan hormon insulin dan kadar gula darah yang meningkat drastis sebelum akhirnya menurun kembali secara cepat.
Mengonsumsi karbohidrat olahan dalam jumlah banyak memicu kenaikan berat badan karena adanya proses biologis tertentu di dalam tubuh. Saat seseorang menyantap olahan terigu, kadar glukosa dalam darah akan naik dengan signifikan yang kemudian diikuti oleh peningkatan produksi insulin secara masif di dalam tubuh.
Kondisi ini sering disebut sebagai spike insulin. Namun, setelah lonjakan tersebut terjadi, kadar insulin akan kembali turun atau drop secara mendadak. Penurunan drastis inilah yang kemudian memicu sinyal lapar ke otak, meskipun seseorang sebenarnya baru saja selesai mengonsumsi makanan.
Kaitan Olahan Terigu dengan Lemak Tubuh
Menurut dr Yaze, selain menyebabkan rasa lapar yang datang lebih cepat, kebiasaan mengonsumsi olahan terigu tanpa diimbangi aktivitas fisik dapat berdampak pada penumpukan lemak. Glukosa yang tidak segera diolah menjadi energi melalui aktivitas fisik akan dialihkan penyimpanannya oleh sistem metabolisme tubuh.
"Jadi, habis itu dia tersimpannya pun, kalau misalnya kamu enggak ada olahraga, dia tersimpannya dalam bentuk jaringan lemak," ujar dr Yaze dalam sebuah diskusi kesehatan daring, Kamis (24/9/2026).
Penumpukan jaringan lemak ini menjadi salah satu faktor risiko kenaikan berat badan yang tidak terkontrol. Penting untuk memahami bahwa asupan makanan tertentu memerlukan perhatian khusus agar tidak berdampak buruk pada kesehatan, sebagaimana Kalori Gado-Gado Bisa Melonjak Tinggi Ini Penjelasan Dokter Gizi apabila tidak diatur porsinya dengan benar.
Tips Mencegah Penumpukan Lemak Pasca Makan
Sebagai langkah antisipasi agar kalori yang masuk tidak langsung berubah menjadi cadangan lemak, dr Yaze membagikan trik sederhana. Aktivitas ini bertujuan agar glukosa yang ada di dalam aliran darah segera dimanfaatkan oleh otot untuk dibakar menjadi energi aktif.
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan berjalan kaki selama 10 hingga 15 menit sesaat setelah selesai makan. Kebiasaan jalan kaki setelah makan cegah penumpukan lemak tubuh karena membantu otot menggunakan glukosa tersebut secara langsung sebelum sempat disimpan.
"Jadi makanan yang habis kita makan itu enggak sempat tersimpan ke jaringan lemak, tapi langsung dipakai otot untuk glukosanya ini dijadikan energi," terangnya.
Meskipun aktivitas fisik sangat disarankan, dr Yaze memberikan catatan penting agar olahraga tidak dijadikan sebagai bentuk hukuman atau kompensasi rasa bersalah. Melakukan olahraga berat selama berjam-jam hanya karena baru saja mengonsumsi makanan tinggi kalori seperti mi ayam justru tidak disarankan bagi tubuh.
Simpulan
Konsumsi olahan terigu yang berlebihan memicu siklus lapar yang cepat akibat adanya lonjakan dan penurunan insulin yang drastis. Jika sisa glukosa dalam tubuh tidak segera digunakan, maka sistem metabolisme akan menyimpannya sebagai cadangan jaringan lemak.
Aktivitas ringan seperti berjalan kaki selama 15 menit setelah makan menjadi solusi efektif untuk mengubah glukosa menjadi energi otot. Cara ini membantu mencegah penumpukan lemak tanpa harus membebani tubuh dengan aktivitas fisik yang terlalu berat sebagai hukuman atas porsi makan yang dikonsumsi.