Orang tua perlu memperketat pengawasan terhadap penggunaan ponsel pintar pada anak guna menghindari risiko konten negatif dan penyalahgunaan kecerdasan buatan. Langkah ini krusial mengingat data UNICEF tahun 2026 menunjukkan peningkatan ancaman manipulasi gambar digital yang menyasar jutaan anak di berbagai negara melalui teknologi deepfake.

Pemberian ponsel kini memang sudah menjadi hal umum untuk mendukung belajar, mencari informasi, hingga sarana kreativitas. Namun, internet juga menyimpan risiko tersembunyi seperti konten pornografi, kekerasan, penipuan, perundungan siber (cyberbullying), hingga interaksi berbahaya dengan orang asing yang sulit dikenali anak tanpa pendampingan memadai.

Tantangan ini semakin kompleks dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu memanipulasi data visual. Oleh karena itu, kontrol orang tua tidak cukup hanya dengan melarang aplikasi tertentu, melainkan harus dibarengi dengan pembangunan kebiasaan digital yang sehat dan literasi yang tepat.

Pemanfaatan Fitur Keamanan dan Kontrol Orang Tua

Langkah teknis utama yang dapat dilakukan adalah mengaktifkan fitur parental control pada perangkat anak. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menganjurkan penggunaan fitur ini bersamaan dengan SafeSearch guna menyaring konten dewasa dan membatasi waktu layar secara otomatis. Pengaturan ini membantu memastikan anak hanya mengakses konten yang sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka.

Selain fitur teknis, komunikasi terbuka menjadi kunci. Orang tua disarankan untuk mengenali apa saja yang dilakukan anak di internet, mulai dari aplikasi yang sering dibuka hingga teman berkomunikasi di media sosial. Risiko ini sejalan dengan kekhawatiran apakah media sosial kini jadi sumber kegelisahan anak muda modern di tengah derasnya arus informasi.

Waspadai Ancaman Cyberbullying dan Manipulasi AI

Orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak yang mungkin menjadi korban cyberbullying. Gejala seperti kecemasan setelah menerima pesan, sifat tertutup yang tiba-tiba, hingga keengganan menggunakan ponsel bisa menjadi indikasi adanya perundungan. Anak harus diajarkan untuk menyimpan bukti perundungan, memblokir pelaku, dan melaporkannya kepada orang dewasa.

Edukasi mengenai risiko AI juga menjadi prioritas baru. UNICEF mencatat sedikitnya 1,2 juta anak dalam satu tahun telah mengalami manipulasi gambar mereka menjadi konten deepfake seksual. Orang tua wajib memberikan pemahaman agar anak tidak sembarangan mengunggah foto pribadi yang berisiko disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Langkah Menjaga Privasi Digital

  • Jangan membagikan alamat rumah, nomor telepon, atau lokasi sekolah kepada orang asing.
  • Berikan pemahaman bahwa setiap unggahan atau komentar meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus.
  • Batasi berbagi lokasi secara waktu nyata (real-time) di media sosial.
  • Rutin memeriksa pengaturan privasi pada setiap aplikasi yang digunakan anak.

Edukasi ini sangat penting dilakukan di tingkat akar rumput, sebagaimana komunitas literasi ajak pemuda pedalaman kenal teknologi digital baru untuk memperkuat keamanan siber sejak dini.

Penerapan Aturan dan Keteladanan Orang Tua

Pengawasan teknologi akan lebih efektif jika dibarengi dengan kesepakatan bersama mengenai waktu dan tempat penggunaan ponsel. Misalnya, menetapkan aturan tanpa ponsel saat makan bersama atau sebelum tidur. Aturan yang konsisten membantu anak belajar mengambil keputusan yang bertanggung jawab secara mandiri.

Keteladanan dari orang tua juga memegang peranan penting. Anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, sehingga orang tua harus membatasi penggunaan gawai secara berlebihan saat sedang bersama anak. Pendampingan yang ideal adalah kombinasi antara kontrol teknologi dan komunikasi yang menempatkan orang tua sebagai sosok tepercaya untuk bercerita.

Simpulan

Mengontrol ponsel anak bukan berarti memutus akses mereka terhadap teknologi, melainkan membekali mereka dengan kemampuan untuk bernavigasi secara aman di dunia digital. Penggunaan fitur pengawasan harus diimbangi dengan literasi digital agar anak memahami alasan di balik setiap batasan yang diberikan.

Melalui pendampingan yang konsisten dan komunikasi dua arah, orang tua dapat melindungi anak dari ancaman modern seperti cyberbullying dan manipulasi deepfake. Keamanan digital anak bergantung pada kolaborasi antara pemanfaatan teknologi keamanan dan pengawasan aktif dari lingkungan keluarga.