Perekonomian Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan global. HSBC memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap mampu berada di atas lima persen pada tahun mendatang meskipun di tengah bayang-bayang berbagai tantangan ekonomi makro.
Kepala Ekonom Asia HSBC Frederic Neumann menyampaikan bahwa kondisi global saat ini cukup menantang karena banyak negara menghadapi guncangan yang serupa. Indonesia juga tidak luput dari dampak tersebut, namun pertumbuhan ekonominya dinilai tetap terjaga dengan baik.
Pada paruh pertama tahun ini, perekonomian nasional tercatat tumbuh 5,4 persen. HSBC memperkirakan pertumbuhan sepanjang tahun ini akan berada di angka 5,4 persen, lalu sedikit melambat menjadi 5,2 persen pada tahun depan.
Ketahanan Energi dan Pengendalian Pangan
Salah satu faktor utama penopang ketahanan ekonomi Indonesia adalah kebijakan pemerintah dalam meredam lonjakan harga energi. Subsidi untuk bahan bakar seperti Pertalite dan Biosolar yang harganya tetap hingga akhir 2026 mampu menahan beban masyarakat.
Sementara itu, tekanan dari sektor pangan juga masih dapat diredam dengan baik meskipun terdapat ancaman fenomena El Nino. Berdasarkan pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia, sejumlah komoditas pangan mengalami dinamika harga yang bervariasi.
- Bawang putih ukuran sedang naik 1,79 persen menjadi Rp39.700 per kilogram.
- Bawang merah ukuran sedang naik 9,89 persen menjadi Rp41.100 per kilogram.
- Cabai merah besar naik 2,52 persen menjadi Rp58.960 per kilogram.
- Cabai keriting sedang naik 8,74 persen menjadi Rp75.900 per kilogram.
- Telur ayam ras segar turun 1,67 persen menjadi Rp25.900 per kilogram.
- Beras kualitas medium I turun 0,3 persen menjadi Rp16.550 per kilogram.
HSBC menilai perbaikan sistem distribusi pangan berperan besar dalam menahan laju kenaikan harga tersebut. Selain itu, status Indonesia sebagai eksportir pangan neto membuat ketergantungan terhadap impor menjadi relatif terbatas.
Tanggapan Suku Bunga dan Stabilitas Rupiah
Kenaikan suku bunga global dinilai tidak akan menjadi beban berat bagi Indonesia karena pemerintah dan pelaku usaha sudah berpengalaman menghadapi kondisi serupa. Kebijakan pengelolaan utang dan defisit anggaran yang konservatif turut memperkuat fundamental ekonomi dalam negeri.
Terkait kebijakan moneter, Bank Indonesia dinilai hanya perlu menaikkan suku bunga sebanyak satu kali saja apabila Federal Reserve kembali memperketat kebijakannya. Stabilitas nilai tukar rupiah dan defisit anggaran yang berada jauh di bawah batas tiga persen turut memberikan keyakinan bagi investor asing untuk kembali memasukkan modal ke pasar domestik, seperti yang disoroti melalui Kebijakan Ekonomi Baru: Antara Stimulus atau Risiko Inflasi Tinggi? di tengah dinamika pasar keuangan.
Simpulan
Perekonomian Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tekanan lonjakan harga energi, ancaman El Nino, serta kenaikan suku bunga global. Kebijakan subsidi energi yang tepat serta perbaikan distribusi pangan menjadi kunci utama terjaganya stabilitas makroekonomi nasional.
Dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5,2 persen pada tahun depan serta kembalinya aliran modal asing, Indonesia dinilai mampu menyerap berbagai guncangan global dengan baik.