Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026. Tekanan teknikal muncul setelah indeks terkoreksi 1,02 persen ke posisi 6.009,50 pada penutupan perdagangan Kamis sebelumnya, yang juga bertepatan dengan momen perombakan kabinet di dalam negeri.
Pergerakan indeks pada hari ini diperkirakan tetap volatil karena pasar masih mencermati sejumlah sentimen domestik maupun global. Sebelumnya, IHSG Dibuka Melemah Tipis di Awal Oktober 2026 dan Saham GOTO Anjlok yang memberikan gambaran awal mengenai tekanan jual di pasar modal Indonesia.
Analisis Teknikal dan Area Support Kritis
Sejumlah perusahaan sekuritas menyoroti pentingnya level 6.000 sebagai batas psikologis bagi IHSG. BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa indeks telah menembus support Fibonacci di level 6.019. Jika tekanan berlanjut, area support berikutnya diprediksi berada di kisaran 5.854, sementara resistance berada pada rentang 6.185 hingga 6.240.
Senada dengan itu, Mirae Asset Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi yang volatil sebelum mampu membentuk pola pemulihan yang solid. Selama level support mampu bertahan, peluang untuk terjadi pembalikan arah atau technical rebound masih terbuka lebar bagi investor.
Berikut adalah perbandingan titik support dan resistance menurut beberapa perusahaan sekuritas untuk perdagangan hari ini:
| Sekuritas | Support | Resistance |
|---|---|---|
| BRI Danareksa Sekuritas | 5.854 | 6.185 - 6.240 |
| MNC Sekuritas | 5.949 - 5.872 | 6.187 - 6.297 |
| Mirae Asset Sekuritas | 6.019 - 5.854 | - |
Sentimen Global dan Kenaikan Harga Minyak
Kondisi pasar global turut memberikan pengaruh terbatas bagi IHSG hari ini. Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup bervariasi dengan penguatan tipis pada Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq. Hal ini menunjukkan minimnya katalis positif yang kuat dari eksternal untuk mendorong indeks ke zona hijau secara signifikan.
Di sisi lain, harga minyak mentah jenis Brent telah melampaui level USD100 per barel. Kenaikan tajam harga komoditas energi ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada ekspektasi inflasi dan biaya operasional industri. Sektor Industri Indonesia Berisiko Tertekan Akibat Kenaikan Harga Solar Global yang dapat memperberat kinerja emiten terkait.
Selain harga komoditas, investor juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat. Data ini menjadi instrumen penting untuk memproyeksi arah kebijakan suku bunga The Fed yang akan memengaruhi aliran modal asing di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dampak Reshuffle Kabinet terhadap Sentimen Pasar
Dari dalam negeri, fokus pelaku pasar tertuju pada pengumuman perubahan susunan kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 104/P Tahun 2026, beberapa nama baru mengisi posisi strategis dalam pemerintahan.
Daftar Menteri Hasil Reshuffle Oktober 2026
- Bahlil Lahadalia: Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.
- Sugiono: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
- Dudung Abdurachman: Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
- Arrmanatha Christiawan Nasir: Menteri Luar Negeri.
Perubahan ini memicu sikap hati-hati dari investor karena adanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan strategis di masa depan. Meskipun demikian, data fundamental ekonomi domestik masih menunjukkan performa positif dengan surplus neraca perdagangan Agustus mencapai USD3,55 miliar, meski inflasi September berada di level 3,28 persen secara tahunan.
Radar Saham dan Pilihan Perdagangan
Melihat kondisi IHSG yang rawan terkoreksi, beberapa analis menyarankan investor untuk mencermati saham-saham yang memiliki potensi pergerakan jangka pendek. BRI Danareksa Sekuritas memasukkan dua saham ke dalam radar perdagangan hari ini.
Saham ENRG menjadi salah satu yang diperhatikan dengan target harga pada kisaran Rp1.440 hingga Rp1.500. Selain itu, saham COCO juga masuk dalam pantauan dengan estimasi pergerakan di level Rp116 hingga Rp120 per lembar saham.
Simpulan
IHSG hari ini diprediksi akan bergerak dengan kecenderungan tertekan di sekitar level 6.000. Kombinasi antara pelemahan teknikal, lonjakan harga minyak dunia yang menembus USD100, serta penyesuaian pasar terhadap susunan kabinet baru menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan indeks.
Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap potensi penembusan level support di 5.949 atau 5.854. Di sisi lain, fundamental ekonomi dalam negeri yang masih mencatatkan surplus perdagangan diharapkan mampu menjadi penahan tekanan jual yang lebih dalam di pasar modal.