Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda menguat 0,11 persen ke level Rp17.875 per dolar AS, mengakhiri tren pelemahan yang terjadi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Kenaikan tipis ini setara dengan penguatan 20 poin dibandingkan posisi penutupan Senin (5/10/2026) yang berada di level Rp17.895 per dolar AS. Pergerakan positif rupiah terjadi saat indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,03 persen ke posisi 102,138, yang menunjukkan sedikit penurunan kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia lainnya.
Kondisi pasar modal domestik juga memberikan pengaruh pada sentimen investor. Sebelumnya, IHSG dibuka melemah tipis di awal Oktober 2026, yang mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar dalam merespons dinamika ekonomi global di awal kuartal terakhir tahun ini.
Lonjakan Imbal Hasil US Treasury ke Level Tertinggi
Meskipun menguat tipis, posisi rupiah masih dibayangi tekanan berat dari pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor panjang melonjak signifikan pada perdagangan awal pekan ini. Tenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh angka 5,349 persen, rekor tertinggi sejak April 2002.
Kondisi serupa terjadi pada imbal hasil tenor 30 tahun yang mencapai 5,703 persen, titik tertinggi dalam 24 tahun terakhir. Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS ini meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, sehingga berisiko memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Situasi ini perlu diwaspadai karena tekanan dolar AS yang berkelanjutan bisa mengulang momentum saat Dolar Sentuh Rp 18.000. Jika level psikologis tersebut kembali teruji, pasar memproyeksikan adanya peluang kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada bulan depan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Tekanan Inflasi dari Sektor Jasa AS
Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa sektor jasa masih berada di zona ekspansi. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan PMI jasa berada di level 54,9 pada September 2026. Meskipun angka ini menunjukkan sedikit perlambatan dibanding Agustus, perhatian pasar justru tertuju pada kenaikan tajam komponen harga.
Indeks harga dalam laporan ISM tersebut melonjak ke level 74, tertinggi sejak Juli 2022. Hal ini memberikan sinyal kuat bahwa risiko inflasi di Amerika Serikat belum sepenuhnya terkendali. Tekanan harga yang menetap di sektor jasa menjadi penyeimbang terhadap laporan tenaga kerja sebelumnya yang sempat melemah, sehingga memicu spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Menanti Data Neraca Perdagangan
Pelaku pasar kini menantikan rilis data neraca perdagangan Amerika Serikat untuk periode Agustus yang dijadwalkan pada Selasa malam waktu setempat. Konsensus pasar memperkirakan defisit perdagangan AS akan melebar menjadi 102 miliar dolar AS, naik dari posisi 88,6 miliar dolar AS pada Juli.
Besaran defisit ini akan menjadi indikator penting bagi pergerakan mata uang global selanjutnya. Jika defisit tercatat lebih besar dari ekspektasi, maka tekanan terhadap dolar AS bisa kembali meningkat, yang memberikan ruang bagi rupiah untuk mempertahankan tren penguatan di sisa pekan ini.
Simpulan
Nilai tukar rupiah berhasil mengawali perdagangan 6 Oktober 2026 dengan apresiasi tipis ke level Rp17.875 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar global, meski pasar obligasi AS masih menunjukkan volatilitas tinggi dengan imbal hasil yang menyentuh rekor dua dekade.
Dinamika pergerakan rupiah kedepannya akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi makro AS, terutama rilis neraca perdagangan dan potensi berlanjutnya tekanan inflasi di sektor jasa. Investor disarankan tetap memantau rilis data global guna mengantisipasi volatilitas yang mungkin muncul di pasar valuta asing domestik.