Nilai tukar rupiah yang mendekati level tinggi mendorong spekulasi kebijakan moneter lanjutan di tanah air. Ekonom memperkirakan Bank Indonesia berpeluang menaikkan kembali suku bunga acuan atau BI Rate jika tekanan pelemahan rupiah semakin dalam pada sisa tahun ini.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menyatakan peluang penyesuaian suku bunga acuan pada kuartal IV 2026 mengalami peningkatan. Pihaknya bahkan melakukan revisi perkiraan posisi BI Rate pada akhir 2026 bisa menyentuh level 6 persen.
Revisi tersebut memperhitungkan adanya kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin. Faktor pendorong utamanya berasal dari langkah pengetatan yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed pada September.
Langkah pengetatan tersebut dinilai sangat relevan bagi keputusan otoritas moneter Indonesia. Pertimbangannya berkaitan dengan selisih suku bunga, pergerakan arus modal, kondisi nilai tukar rupiah, serta potensi kenaikan harga barang impor.
Faktor Pemicu Kenaikan Suku Bunga
Meski demikian, langkah penyesuaian tidak dilakukan semata-mata mengikuti kebijakan bank sentral asing secara langsung. Kebijakan tersebut memerlukan asesmen terhadap sejumlah indikator ekonomi makro di dalam negeri.
Apabila tekanan terhadap rupiah bersifat sementara, tingkat inflasi terkendali, serta intervensi valuta asing berjalan efektif, ruang untuk menunggu masih tersedia. Sebaliknya, tekanan yang persisten akan mengubah arah kebijakan.
Bila rupiah terus melemah, harga minyak bertahan di level tinggi, arus modal keluar berlanjut, dan inflasi merangkak naik, penambahan 25 basis poin menjadi kebutuhan mendesak. Langkah itu dinilai konsisten untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Tantangan Pengambilan Kebijakan
Pandangan serupa disampaikan oleh Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance INDEF M. Rizal Taufikurahman. Peluang kenaikan BI Rate lanjutan bisa terjadi jika depresiasi kurs berlangsung lebih cepat.
Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh pembesaran arus modal keluar serta gangguan pada ekspektasi inflasi di masyarakat. Meski demikian, setiap keputusan menahan atau mengerek suku bunga tetap berpijak pada kondisi domestik.
Otoritas moneter menghadapi pilihan yang cukup berat di tengah situasi global yang dinamis. Kenaikan suku bunga dapat menekan penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi, sementara pelemahan kurs berkepanjangan mendongkrak biaya produksi serta menggerus daya beli masyarakat.
Simpulan
Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menempatkan Bank Indonesia pada posisi penentuan kebijakan yang krusial. Pelemahan mata uang yang berlanjut membuka probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada Oktober atau November mendatang.
Di satu sisi, pengetatan moneter diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan arus modal. Di sisi lain, langkah tersebut membawa konsekuensi terhadap perlambatan pertumbuhan kredit dan peningkatan beban biaya produksi di dalam negeri.