InfraNexia resmi membidik pasar konektivitas antarpusat data dan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan pada Kamis, 01 Oktober 2026. Langkah strategis ini diambil seiring pelaksanaan pemisahan bisnis serta pengalihan aset tahap kedua dari PT Telkom Indonesia Tbk.

Pengalihan aset segmen usaha wholesale pada tahap kedua ini mencatatkan nilai sebesar Rp49,9 triliun. Keputusan korporasi tersebut telah memperoleh persetujuan resmi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Telkom.

Perusahaan membidik penyedia komputasi skala besar untuk memetakan arah ekspansi jaringannya. Kebutuhan para pelaku industri digital tersebut akan menjadi rujukan utama bagi penyediaan jalur data berkecepatan tinggi.

Upaya ini sekaligus melengkapi penguatan infrastruktur telekomunikasi nasional ketika jaringan internet Indonesia tembus 90 persen dan fokus ekspansi 5G di berbagai wilayah.

Rencana Ekspansi Konektivitas Antarpusat Data

Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom Seno Soemadji menyebut penghubung antarpusat data menjadi prioritas berikutnya. Pihak InfraNexia kini menyusun pemetaan kebutuhan para penyedia layanan komputasi skala besar.

"DC-to-DC connectivity akan menjadi salah satu fokus berikutnya. Saat ini kita akan fokus bagaimana menjawab kebutuhan dari para hyperscaler dengan membuat semacam AI heatmap dari para hyperscaler tersebut," kata pihak InfraNexia dalam sesi wawancara setelah paparan Telkom, 30 September 2026.

Langkah pemetaan tersebut dinilai krusial untuk menaikkan pemanfaatan jaringan kabel serat optik. Selama ini tingkat penggunaan infrastruktur fiber dinilai masih sangat rendah, padahal modal pembangunannya telah dikeluarkan.

Guna mendongkrak utilitas jaringan, InfraNexia membuka akses layanan bagi seluruh operator secara netral atau carrier-neutral. Skema terbuka tersebut dirancang demi memperluas serapan pasar pada infrastruktur yang telah terbangun.

Modernisasi Jaringan dan Kinerja Pendapatan

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd Rauf menegaskan pembaruan infrastruktur menjadi agenda mendesak setelah pengalihan aset berlangsung. Modernisasi perangkat produksi diperlukan untuk merespons lonjakan kebutuhan teknologi komputasi awan dan pemrosesan data.

"Tantangannya adalah kami akan segera melakukan modernisasi memastikan seluruh alat produksi yang kami miliki relevan dengan pertumbuhan industri saat ini, termasuk untuk mendukung AI dan platform-platform digital yang sudah semakin besar, mulai dari cloud sampai ke peluang lainnya," ujar Lukman.

Portofolio InfraNexia terbagi dalam dua lini utama, yaitu konektivitas jaringan berskala besar serta layanan akses berbasis serat optik. Unit operasional ini melayani kebutuhan pelanggan di lingkungan Telkom Group maupun konsumen dari luar grup.

Kontribusi pendapatan dari pelanggan eksternal telah berada di atas 15 persen hingga paruh pertama 2026. Pendapatan dari segmen luar grup tersebut tercatat tumbuh lebih dari 30 persen secara tahunan.

Struktur Kepemilikan dan Restrukturisasi Manajemen

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menegaskan nilai Rp49,9 triliun merupakan taksiran aset yang dialihkan, bukan penerimaan kas langsung. Telkom tetap memegang kendali penuh atas anak usahanya tersebut dengan kepemilikan saham mencapai 99,9 persen.

Pemisahan unit bisnis ini dirancang guna membenahi tata kelola aset perusahaan pelat merah tersebut. Langkah ini juga ditujukan untuk meningkatkan transparansi kinerja serta membuka ruang monetisasi jaringan secara optimal.

RUPSLB Telkom turut menetapkan perombakan susunan direksi perseroan. Nanang Hendarno yang sebelumnya menjabat Direktur Network resmi diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan Dian Siswarini.

Simpulan

Pemisahan bisnis tahap kedua membawa InfraNexia fokus menggarap konektivitas antarpusat data dan infrastruktur pendukung kecerdasan buatan. Model layanan netral diharapkan mampu mengoptimalkan aset serat optik yang pemanfaatannya masih minim.

Dengan pengalihan aset bernilai puluhan triliun rupiah, InfraNexia mempercepat modernisasi perangkat produksi jaringan. Langkah restrukturisasi ini menegaskan komitmen Telkom dalam menangkap peluang ekonomi digital nasional.